PARA MASYAIKH TABLIGH, DAN KESEDERHANAAAN

Alhamdulillah wassaholatu ala rasulillah

Maulana Ilyas rah.a. katakan : Dibalik kesederhanaan, Allah SWT meletakkan kebahagiaan

Pertolongan Allah SWT datang lewat kesederhanaan, dan sifat sederhana adalah pupuk dari agama. Orang yang bisa hidup dengan sederhana maka agamanya akan subur. Para Masyaikh beritahu bahwa yang haq tak akan bercampur dengan kemewahan, ibarat air dengan minyak. Karena yang haq di bangun dengan kesederhanaan. Sedangkan barang bathil dan kemewahan ibarat air dengan sirup, sserta kebathilan diperjuangkan dengan kemewahan.

India adalah negeri yang cocok dengan perjuangan yang haq, disana makanan sangat sederhana, hanya dengan satu model saja. Lihatlah di Markaz Dakwah, kadang hanya tersedia nasi Briani saja, atau nasi dengan Salen (sejenis sayur) saja. Terkadang hanya roti dengan Dal (kacang) saja. Berbeda dengan Negara kita , orang-orang selalu makan dengan berbagai lauk, apalagi kalau di Negara Arab yang mana kemewahan hidup telah datang kepada mereka.

Pakaian Laki-laki muslim di India juga sangat sederhana. Mereka memakai pakaian gamis yang harganya 50.000 rupiah saja dan perempuan Muslimahnya memakai purdah berwarna hitam, khususnya istri-istri para ahli dakwah. Beda banget dengan pakaian orang-orang Islam di Indonesia, selain beraneka ragam corak dan bentuknya yang menyerupai pakaian orang-orang kafir, juga harganyanya mahal banget.

Rumah-rumah mereka terbuat dari batu bata dan jarang di plester dengan semen, kecuali rumah orang-orang Hindu yang kaya atau orang - orang Islam yang moderat. Kendaraan mereka yang favorit adalah kereta api. Dengan mengeluarkan biaya sangat murah, mereka sudah bisa melakukan perjalanan mengelilingi seluruh pelosok negeri.
Kalau kita lihat keadaan bangunan mesjid Banglawali,yang merupakan markaz dakwah & tabligh, walaupun terdiri dari dari 5 tingkat, kelihatan amat sederhana. Tak ada keramik, marmer, Plur semen, dan tak ada aksesoris bangunan yang mengesankan kemewahan seperti lampu gantung hias dan sebagainya. Alas berasal dari tikar atau kain yang dilipat tebal. Dimana – mana terlihat tumpukan barang-barang jamaah, sehingga terlihat kumuh.

KEHIDUPAN PARA MASYAIKH DAKWAH DAN TABLIGH

Bagaimana dengan kehidupan para masyaikh ? Kehidupan merekapun amat bersahaja dan penuh dengan dengan kesederhanaan yang kita akan takjub dibuatnya.Kehidupan mereka sehari-hari akan tampak di lihat oleh orang-orangyang bersuhbah dengan mereka, mulai dari pakaiannya, rumahnya, makan-minumnya, sampai hal-hal yang kecil dapat kita perhatikan dan pelajari dari mereka. Tidak seperti kebanyakan ulama masa kini, yang sehabis ceramah langsung pulang ke rumah, kunci pintu, sehingga umat tak tahu lagi amal keseharian mereka.

Bahkan di Markaz Dakwah di Raiwind, saat musim panas para tamu yang dari luar negeri akan ditempatkan di ruangan ber-AC sementara ruang para Masyaikh hanya tersedia kipas yang kecil saja sehingga terasa panas. Walaupun dunia telah datang kepada mereka, orang-orang berdatangan ke markas mereka dari berbagai belahan dunia, tapi tak ada terbersitpun keinginan mereka untuk mengambil manfaat dunia seperti buat penggalangan dana atau menari sumbangan dari para tamu. Bahkan mereka melayani tamu-tamu mereka habis-habisan, dengan member makan gratis siang dan malam serta semua fasilitas tamu dipenuhi (bayangkan, setiap hari ada sekitar 20 ribu orang yang datang berkunjung di markas dakwah !)Para Masyaikh makan bersama dengan tamu, tak ada menu khusus buat mereka. Pakaian para masyaikh pun sangat sederhana. Di ceritakan pula bahwa Syeikh Ilyas selalu memakai kain yang telah berumur 80 tahun, peninggalan kakeknya.

Akhlak mereka pun begitu tinggi, tampak ada rasa kasih-sayang kepada umat yang begitu besar. Pernah suatu ketika ada musyawarah di markas, yang mana diadakan di ruangan khusu dan di jaga oleh tim khirosah (sekuriti). Kebetulan petugas khirosah yang mendapat giliran berjaga adalah orang baru dari daerah yang baru ikut ambil bagian dalam usaha dakwah, sehingga tak kenal dengan masyaikh. Saat Maulan Jamsid hendak masuk ke dalam ruangan musyawarah, maka petugas khirosah melarangnya dan mengatakan di dalam lagi ada musyawarah sehingga jangan mengganggu.Karena pakaian Maulana yang begitu sederhana, orang tersebut tidak menyangka bahwa beliau itu adalah masyaikh juga. Maka dengan tawaddhunya, S Maulana Jamsid kembali lagi ke kamarnya sampai ada orang yang memanggilnya dan menemaninya masuk ke ruang musyawarah. Beliau tak marah sedikitpun kepada orang itu.

Dengarlah penuturan Syeikh Abul Hasan Ali An Nadwi (seorang ulama besar) tentang kepribaduian para masyaikh tabligh : Banyak harakah yang mengalami pergeseran perjuangan mereka menjadi kemewahan ketika dunia telah datang kepada mereka sehingga dunia menjadi tujuan mereka selanjutnya. Tetapi tidak dengan Jamaah Tabligh !. Para masyaikh mereka tetap hidup dalam kesederhanaan, perjuangan mereka tak bercampur sedikitpun dengan keduniaan, walaupun dunia telah datang kepada mereka.
Para Masyaikh sering mengatakan dalam bayan mereka bahwa demi Allah, tak ada sedikitpun niat mereka untuk mendapatkan keduniaan dalam menjalankan usaha dakwah ini, walaupun itu hanya sepotong roti !

SOURCE : Buku kecil berjudul Ada Apa Di India _ Ust.Yudha Hidayah

SUBHANAKALLAHUMMA WABIHAMDIKA ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLA ANTA ASTAGHFIRUKA WA ATUWBU ILAIK

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar